Mengenang Kejayaan Tradisi Keilmuan Islam

-------------------------------------------------------------------
Peradaban Islam pernah mencapai masa keemasan. Itu fakta sejarah yang 
takbisa dipungkiri siapapun. Hampir tujuh abad lamanya, 
mulai 750-1500 M 0-700H, bendera kejayaan Islam terus berkibar.
-------------------------------------------------------------------

Sejak deklarasi Islam oleh Rasulullah Muhammad Saw sampai pada
kejatuhan Granada di Spanyol, peradaban Islam memberi kontribusi yang tidak
bisa dilupakan oleh peradaban modern kini.

Dalam rentang waktu itu, lahir ratusan ilmuwan muslim yang melahirkan
beragam teori yan mengilhami kemunculan renaissance di Eropa. Al Khowarizmi
(matematika), Jabir Ibn Hayyan (kimia), Ibnu Khaldun (sosiologi dan
sejarah), Ibnu Sina (kedokteran), Ar Razi (kedokteran), Al Biruni (fisika),
Ibnu Batutah (antropologi) adalah contoh nama-nama yang bisa dikedepankan.

Bagaimana tidak signifikan sumbangan Islam pada perkembangan ilmu
pengetahuan dan tekhnologi (iptek) saat ini. Al Khowarizmi, misalnya,
menemukan angka nol (0) yang pada zaman sebelumnya (China, India, dan
Yunani) belum diketahui.

Uraian beragam teori sosiologi dan sejarah yang dikemukakan Ibn Khaldun
dalam Magnum Opus Mukadimah sampai sekarang tetap aktual dan menjadi
referensi sosiologi modern. Belum lagi berbagai teori kedokteran yang
dikemukakan Ar razi tentang penyakit cacar, serta Ibnu Sina tentang
pembiusan dan pembedahan.

Berbeda dengan tradisi Eropa yang pernah mengalami beberapa kejadian tragis
akibat bertentangan doktrin agamanya, tradisi keilmuan Islam justru
berangkat dari kecintaannya pada agama.

Dalam rekaman sejarah Islam, peristiwa yang menimpa Galileo Galilei, Bruno
Giordano, Nicholas Copernicus, Miguel Serveto tidak pernah terjadi. Justru
Islam menempatkan para ilmuwan dalam maqom yang tinggi (lihat QS Ad Dzariyat
ayat 11).

Para ilmuwan Islam meyakini bahwa tauhid menjadi sumber inspirasi dan
aspirasi untuk berekspresi. Bahwa semua yang ada di alam adalah hukum Tuhan
(sunnat ul-Lah) yang objektif, universal, dan mutlak adanya.

Karena keyakinan inilah, lumrah bila sesudah atau menghadapi masalahh dalam
penelitiannya dikembalikan kepada Sang Khalik. Ibn Sina, contohnya, akan
pergi ke masjid, shalat, dan berdoa meminta petunjuk Allah berkenaan dengan
hasil penelitian kedokterannya.

Semua karya dan penelitian Ibn Sina berujung pada kepasrahan total kepada
Allah (al Islam). Sikap ini juga dimiliki Al Khowarizmi, Al Biruni, dan
sebagainya. Ini menunjukkan bahwa di kalangan ilmuwan muslim, keterkaitan
dengan Tuhannya adalah kemutlakan.

Segala kesimpulan objektif hasil penelaahan terhadap fenomena alam diawali
dan dikembalikan pada sumbernya, Al-Qur'an dan hadits. Bagi ilmuwan Islam,
semua penelitian ilmiah adalah bukti untuk memperkuat keyakinan terhadap
ayat Tuhan yang tersurat (Al-Qur'an-hadits) dan tersirat (diri dan alam
semesta).

Kecintaan para ilmuwan Islam pada Al-Qur'an dan tradisi nabi, membuat mereka
bukan hanya fasih dalam suatu bidang keilmuan. Ibnu Al Haitham, misalnya,
selain dikenal sebagai penemu optik, ia adalah ahli matematika dan
astronomi. Al Biruni tidak hanya terkenal dengan kecermatannya dalam
fisika, tetapi juga ahli dalam metafisika.

"Ilmu pengetahuan Islam menjadi ada karena perkawinan antara semangat yang
memancar dari wahyu Al-Qur'an dan ilmu-ilmu yang berasal dari pelbagai
tradisi sebelumnya. Ilmu dalam Islam menjadi sumber rohani bagi
kesinambungan peradaban di masa akan datang," tegas cendekiawan muslim asal
Iran Sayyed Hussein Nasr.

Sifat kosmopolitan peradaban Islam bermula dari watak wahyu yang universal.
Hal ini menyebabkan Islam menciptakan sebuah peradaban pertama di dalam
sejarah umat manusia, katanya.

Kejayaan Islam lahir ketika Eropa yang kini memegang kendali peradaban
berada dalam suasana "The Dark Ages" atau abad kegelapan. Satu keadaan yang
hegemoni gereja sangat mendominasi kehidupan masyarakat Eropa.

Dalam kurun beberapa abad praktis dunia Eropa tidak tersentuh oleh
perkembangan keilmuan yang signifikan. Makanya, masyarakat Eropa kini lebih
suka menyebut abad itu dengan abad pertengahan, ketimbang abad kegelapan
yang terasa lebih menohok secara psikologis.

Berlawanan dengan itu, puncak peradaban Islam dicapai pada masa Bani
Abbasiyah di era khalifah Al Ma'mun ketika ia mendirikan Dar ul-Hikam atau
akademi ilmu pengetahuan pertama di muka bumi ini yang sekaligus menjadi
pusat penelitian, pengembangan, dan perpustakaan tentang ilmu-ilmu
keislaman.

Kegemilangan peradaban Islam tidak berhenti di Baghdad. Ia menyebar ke
daratan Eropa, tepatnya di Andalusia dan Granada, Spanyol sampai 1492 M.

Ilmu pengetahuan merupakan sumbangan terpenting kebudayaan Arab (Islam)
kepada dunia modern, tetapi buahnya lambat masak. Barulah setelah kebudayaan
Arab Spanyol tenggelam kembali ke dalam kegelapan raksasa yang dilahirkannya
bangkit keperkasaannya.

"Bukan hanya ilmu pengetahuan yang menghidupkan kembali Eropa.
Pengaruh-pengaruh lain dan beraneka warna memancarkan sinar pertama dari
peradaban Islam kepada kehidupan Eropa," jelas seorang Guru Besar Bahasa dan
Sastra India A Beriedale Keith.

Kecemerlangan peradaban Islam mulai surut dan mencapai titik nadir
terendahnya ketika bangsa Mongol menghancurkan kota Baghdad. Semua khazanah
peradaban hilang, buku-buku dibakar dan dihanyutkan ke dalam sungai.

Dalam sebuah ilustrasi, keganasan bangsa Mongol terhadap peradaban Islam
dilukiskan dengan memerah dan membirunya warna air sungai-sungai di sekitar
kota Baghdad akibat tinta dan darah kaum ilmuwan Islam yang mengalir di air
sungai Kota Seribu Satu Malam itu.

Sebelum semua peninggalan dan penemuan berharga peradaban manusia
dihancurkan bangsa Mongol, untunglah bangsa Eropa sudah banyak yang
mempelajari kemajuan ilmu pengetahuan modern yang dirintis orang Islam.

Dua ilmuwan Eropa yang tercatat adalah Roger dan Francis Bacon belajar ke
Baghdad untuk mempelajari perkembangan keilmuan yang dirintis ilmuwan Islam.
Perlahan namun pasti cahaya peradaban Islam mulai redup.

Cahayanya beralih ke Eropa. Berbagai teori yang ditemukan ilmuwan Islam
kemudian dilanjutkan oleh para ilmuwan Eropa yang mulai berkuncup, kemudian
berkembang sampai sekarang. (Dari berbagai sumber)

# Dudi Sabil Iskandar/P-8

Media Indonesia
Jum'at, 7 November 2003
Suplemen Khusus Media Indonesia, Halaman 3
Lembaran Khusus Ramadhan 1424 H

One Response

  1. I agreed with you

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: