ZAKAT

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah.Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencari keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (QS. Ar-Ruum, 30:39)

Kutipan terjemahaan Surat Ar-Ruum ayat 39 di atas mengingatkan akan kewajiban kita sebagai seorang muslim, ini hanya salah satu ayat yang dikutif karena masih banyak ayat2 yang lain dalam Al-Qur’an yang memerintahkan agae kita menunaikan zakat. Menjelang akhir Ramadhan yang suci ini sudah merupakan suatu kewajiban bagi seluruh ummat Islam untuk menunaikan zakat fitrah (walaupun zakat bukan hanya zakat fitrah:”klik disini untuk mengetahui tentang zakat”). Berbagai aktivitas yang diadakan Yayasan, LSM, DKM Mesjid dan instansi pemerintah diadakan untuk mengambil dan menyalurkan zakat pada yang berhak menerimanya.

Namun apa yang kita dengar akhir-akhir ini, masih banyak orang yang membagikan zakat tersendiri tanpa jelas siapa saja yang sebenarnya harus mereka beri. Akhirnya seolah dengan sengaja, yang seharusnya zakat ini bisa memberikan kesejahteraan pada masyarakat yg miskin justru malah membawa sengsara bahkan sampai menimbulkan kematian. Apakah ini yang Rosulullah contohkan?? Apakah seperti ini yang Rosulullah perintahkan????

Tentu saja Rosulullah tidak pernah memberikan contoh seperti itu, dan Islam tidak memerintahkan bentuk penyaluran zakat seperti itu. Zakat seharusnya bisa dikelola dengan baik oleh instansi yg ditunjuk oleh pemerintah sehingga dengan adanya zakat bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat yang kurang mampu. Pada masa pemerintahan Rosulullah tentu saja hal ini dikelola dengan manajemen yang baik. Zakat ditunaikan  tentu tidak seenaknya orang memberikan langsung tetapi harus melalui proses yang sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam Islam.

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketemtraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah,9:103)

Melihat kutipan ayat tersebut tentu memberi dan menerima zakat ada proses ijab kabul yang jelas sehingga siapa yang memberi (atas nama siapa) dan siapa yang menerimanya bisa dengan jelas diketahui. Dari sinilah zakat dikumpulkan dan dikelompokkan zakat apa saja yang masuk. Kemudian Warga yang berhak menerimanya pun didata dengan benar berapa jumlah dalam satu keluarganya sehingga mereka memang mendapatkan bagian yang layak.

“Sesungguhnya zakatzakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para Mu’allaf yang dibujuk hatinya,untuk (memerdekaan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Biajaksana.” (QS. At-Taubah, 9:60)

Dan tentunya dari kriteria tersebut di atas masih harus ada keterangan yang jelas bahwa seseorang itu memang fakir ataupun miskin dan sebagainya. Sehingga kita tidak salah sasaran dalam menyalurkan zakat fitrah ini.

Seharusnya dengan jumlah masyarakat indonesia yang banyak ini bisa lebih mensejahterakan rakyatnya jika zakat ini dapat dikelola dengan baik. Bukan  menambah sengsara terhadap rakyat. Bukan menambah penderitaan rakyat. Mungkinkah ini yang menyebabkan orang2 berbuat sendiri karena sudah tidak ada lagi kepercayaan kepada instansi pemerintah yang mengelola zakat??? jawabannya bisa anda telaah sendiri😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: